Kota Baku menjadi ibukota Republik Demokratik Azerbaijan hanya pada September 1918 (sampai saat itu, pemerintah nasional Azerbaijan terlebih dahulu di Tblisi, lalu di Ganja); sebelumnya, kota ini dikuasai oleh berbagai golongan yang berbeda.
Berkat inisiatif Narimanov, pemerintah komunis pertama Azerbaijan hampir seluruhnya terdari dari orang pribumi Azerbaijan dari faksi kiri partai Hummat dan Adalat.
Setelah Republik Federatif Demokratik Transkaukasia jatuh pada tanggal 26 Mei 1918, dan tubuh pemerintahannya hancur, Faksi Azerbaijan dinamai menjadi Dewan Nasional Azerbaijan.
Jenderal Mehmandarov dan Jenderal Shikhlinsky menghabiskan tahun terakhir mengajar di sekolah militer Republik Soviet Sosialis Azerbaijan.
Pemerintah Republik Demokratik Azerbaijan selalu tetap netral dalam masalah Perang Saudara Rusia dan tidak pernah bersampingan dengan Merah maupun tentara Putih.
Azerbaijan memiliki permasalahan teritorial dengan Republik Demokratik Armenia mengenai wilayah Nakhchivan, Nagorno-Karabakh, Zangezur (kini provinsi Armenia yang disebut Syunik), dan Qazakh.
Pada 25 April 1920, tentara Merah XI menyeberangi perbatasan Azerbaijan dan memasuki Baku pada 27 April.
Angkatan Bersenjata Islam Utsmaniyah dan sekutu Azerbaijannya, dipimpin oleh Nuri Pasha, memasuki Baku pada tanggal 15 September dan membantai sekitar 10.000 - 20.000 orang Armenia sebagai pembalasan pembantaian Muslim pada saat Hari-Hari Maret.
Hal ini menyebabkan Republik Demokratik Azerbaijan mengikuti kebijakan netral terhadap Perang Saudara Rusia.
Kehidupan politik Republik Demokratik Azerbaijan didominasi oleh partai Musavat, pemenang pemilihan dewan konstituen tahun 1917.
