Oleh karena itu, seseorang bisa mengatakan Maria menebus dosa bersama Kristus yang manusia.” Paus Pius XII mengulangi penjelasan ini dengan sedikit nada yang berbeda di dalam ensikliknya Mystici Corporis (1943): “Adalah Maria, Hawa kedua, yang bersih dari segala dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dan yang selalu bersatu secara lebih mendalam dengan Putranya, yang mempersembahkan Yesus di Golgota kepada Allah Bapa bagi semua anak-anak Adam, yang ternoda dosa akibat jatuhnya Adam ke dalam dosa, termasuk mempersembahkan haknya sebagai ibu dan cintanya sebagai ibu sebagai kurban persembahan.” Dalam bulla kepausan Munificentissimus Deus mengenai dogma tentang Pengangkatan Tubuh Maria ke Surga, Paus Pius XII menyatakan bahwa “Bunda Allah yang terhormat, dari semua keabadian bergabung di dalam sebuah jalan tersembunyi bersama Yesus Kristus dalam sebuah takdir yang sama, tanpa noda dalam penciptaannya, seorang perawan yang paling sempurna dalam keibuannya yang kudus sebagai rekan yang mulia dari Sang Penebus Dosa yang ilahi.” Beberapa ahli Mariologi terkemuka menyatakan secara terbuka sebuah opini bahwa di dalam usaha persatuan di antara umat Kristen yang benar, kepercayaan-keperacayaan dan devosi-devosi mengenai Maria mungkin diperkecil skalanya oleh wakil-wakil Gereja Katolik Roma, mulai dengan dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium: Kardinal Leo Scheffczyk mengeluarakn pernyataan mengenai bab tentang Maria: “dingin dan terselubungnya dokumen ini bisa dijelaskan, sebagaimana hal ini telah diakui secara terbuka, untuk menunjukkan pertimbangan bagi dialog-dialog ekumene terutama dengan umat Protestan.